Nasehat seorang Syaikh kepada para Wanita

bunga4Putriku tercinta aku seorang yang telah berusia hampir 50 tahun. Hilang sudah masa remaja, impian dan khayalan. Aku telah banyak mengunjungi banyak negeri, dan barjumpa dengan banyak orang. Aku juga telah merasakan pahit getirnya dunia. Oleh karena itu dengarlah nasihat-nasehatku. Dimana engkau belum pernah mendengar dari orang lain.
Kami telah menulis dan mengajak kepada perbaikan moral, menghapus kebejatan dan mengekang hawa nafsu, sampai pena tumpul dan mulut letih. Dan kami tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada kemungkaran yang dapat kami berantas, bahkan bertambah, kerusakan mewabah, pakaian yang terbuka dan merangsang semakin merajalela dan semakin meluas. Berkembang dari satu negeri ke negeri yang lain, sampai tidak ada satu negeri Islam pun menurut dugaanku terhindar dari wabah itu. Negeri-negeri Syam (Syria, Yordania, Libanon, Palestina) sendiri dulu benar-benar bersih, menutup aurat, sangat menjaga kehormatan wanitanya, kini para wanita itu keluar dengan pakaian merangsang, terbuka bagian lengan dan lehernya.
Kami belum berhasil, kami kira tidak akan berhasil. Tahukah engkau kenapa ?
Karena sampai saat ini, kami belum tahu jalannya. Sesungguhnya jalan kebaikan itu ada di depanmu, putriku! Kuncinya berada di tanganmu. Bila engkau percaya bahwa kunci itu ada, lalu engkau meng-gunakannya untuk masuk, maka keadaan akan baik.
Benar bahwa laki-lakilah yang memulai langkah pertama dalam lorong dosa, wanita tidak akan pernah memulainya. Tetapi bila engkau tidak setuju, laki-laki itu tidak akan berani, dan andaikan bukan lantaran lemah gemulaimu, lelaki tidak akan bertambah parah. Engkaulah yang membukakan pintu dia masuk, kau katakan pada si pencuri itu : “Silahkan…..,ketika ia telah mencuri, engkau berteriak : “Maling….! Tolong….Tolong saya kemali-ngan”. Bila engkau mengerti bahwa semua laki-laki serigala dan engkau adalah domba, niscaya engkau akan lari dari mereka, sebagaimana domba lari dari serigala. Kalau kau sadar bahwa mereka pencuri, engkau pun akan berhati-hati sebagimana seorang pelit takut kecurian.
Ya demi Allah… tidaklah seorang pemuda melihat gadis kecuali gadis itu dihayalkannya dalam keadaan telanjang tanpa pakaian.
Demi Allah, begitulah. Jangan kau percaya apa yang dikatakan lelaki, bahwa dia tidak akan melihat gadis kecuali akhlak dan budi bahasanya. Ia akan berbicara sebagai seorang shahabat, ia akan mencintainya sebagai seorang kawan. Demi Allah dia telah bohong! Bila engkau mendengar obrolan diantara anak-anak muda dalam kesepian mereka, engkau akan mendengar-kan sesuatu yang mengerikan, senyuman yang diberikan pemuda kepadamu, kehalu-san budi bahasa dan perhatian, semua itu tidak lain hanyalah merupakan perangkap rayuan untuk mencapai tujuannya.
Setelah itu apa yang terjadi? Apa, wahai putriku? Coba kau pikirkan!
Kalian berdua sesaat dalam kenikmatan, kemudian engkau ditinggalkan, dan engkau selamanya akan tetap merasakan penderitaan akibat kenikmatan itu. Pemuda itu akan terus mencari mangsa lain untuk di-terkam kehormatannya, sedang engkau yang menanggung beban kehamilan dalam perutmu. Jiwamu menangis, keningmu tercoreng. Masyarakat yang zholim dapat mengampuni pemuda itu, dengan mengatakan : “Ia anak muda yang sesat lalu bertaubat”. Tetapi engkau, selama hidupmu tetap berkubang kehinaan dan keaiban, masyarakat tidak akan mengampunimu selama-lamanya.
Namun jika engkau bertemu pemuda, kau palingkan muka, kau tunjukkan kepri-badian dan menghindar … dan kalau pengganggumu itu belum mengindahkan, sampai berbuat lancang lewat perkataan atau tangan yang usil, kau lepaskan sepatu dari kakimu lalu kau lemparkan ke kepalanya, bila semua ini engkau lakukan, maka semua orang di jalan akan membela. Setelah itu, anak-anak nakal takkan mengganggu gadis-gadis lagi.
Dan tentu, jika ia seorang pemuda yang shalih, ia akan datang kepadamu untuk minta maaf dan tidak mengulangi perbuatannya. Selanjutnya ia akan meng-harapkan hubungan yang baik dan halal. Ia akan mendatangi orang tuamu untuk melamarmu.
Wanita, bagaimanapun status sosial, kekayaan, popularitas dan prestasinya tidak akan mendapatkan sesuatu yang sangat diangan-angankan dan kebahagiaan, kecu-ali dalam perkawinan. Menjadi istri yang baik, seorang ibu yang terhormat dan mendidik keluarganya. Baik wanita itu seorang ratu, putri raja atau seorang bintang film kenamaan yang penuh dengan gemerlapan dan mempesona kebanyakan wanita.
Tak ada seorangpun yang mau menikahi pelacur, sekalipun ia lelaki hidung belang, apabila akan menikah tidak akan memilih wanita jalang (nakal), akan tetapi ia akan memilih wanita yang baik karena ia tidak rela bila ibu rumah tangga dan ibu putra-putrinya adalah wanita amoral.
Sesungguhnya krisis pernikahan terjadi disebabkan kalian kaum wanita! Krisis pernikahan terjadi disebabkan perbuatan wanita-wanita asusila, sehingga para pemuda tidak membutuhkan istri, akibatnya banyak para gadis berusia cukup untuk menikah tidak mendapatkan suami. Mengapa wanita-wanita yang baik belum juga sadar ? Mengapa kalian tidak berusaha memberantas malapetaka ini? Kalianlah yang lebih patut dan lebih mampu dari pada kaum laki-laki untuk melakukan usaha itu, karena kalian telah mengerti bahasa wanita dan cara menyadarkan mereka, dan oleh kerena yang menjadi korban kerusakan ini adalah kalian, para wanita mulia dan beragama.
Maka hendaklah kalian mengajak mereka agar bertaqwa kepada Allah, bila mereka tidak mau bertaqwa, peringatkanlah mereka akan akibat yang buruk dari perzinaan seperti terjangkitnya suatu penyakit. Bila mereka masih membangkang maka beritahukanlah akan kenyataan yang ada, katakan kepada mereka : “Kalian adalah gadis-gadis remaja putri yang cantik, oleh karena itu banyak pemuda yang menda-tangi kalian dan berebut di sekitar kalian, akan tetapi apakah keremajaan dan kecantikan itu akan kekal ?. Semua mahluk di dunia ini tidak ada yang kekal. Bagaimana kelanjutannya, bila kalian sudah menjadi nenek dengan punggung bungkuk dan wa-jah keriput? Saat itu, siapakah yang akan memperhatikan? Siapa yang akan simpati?”
Tahukah kalian, siapa yang memperhatikan, menghormati dan mencintai seorang nenek ? Mereka adalah anak dan para cucunya, saat itulah nenek tersebut menjadi seorang ratu di tengah rakyatnya. Duduk diatas singgasana dengan memakai mahkota, tetapi bagaimana dengan nenek yang lain, yang masih belum bersuami itu? Kalian sendiri lebih tahu apa yang terjadi dengan nenek itu.
Di Brussel, di sebuah trotoar yang ada di persimpangan jalan, aku menyaksikan se-orang nenek tua yang tak mampu me-nyangga kedua kakinya, anggota tubuhnya bergetar karena dimakan usia. Perempuan tua itu ingin menyebrang, sementara mobil-mobil di sekelilingnya hampir saja melindasnya, tetapi tak seorangpun yang mau menggandeng tangannya.
Maka aku katakan kepada pemuda yang bersamaku: “Hendaknya salah seorang dari kalian menghampiri dan menolongnya”
Waktu itu kami bersama seorang kawan yaitu Ustadz Nadim Zhubayyan, ia telah tinggal di Brussel lebih dari 40 tahun. Beliau berkata kepadaku: ”Tahukah anda bahwa nenek tua itu dulunya adalah se-orang primadona negeri dan banyak memberikan fitnah bagi manusia? Para lelaki selalu menguntitnya dengan segenap hati (dan apa yang di kantong mereka) untuk sekedar mendapatkan pandangan atau sentuhannya. Tetapi ketika masa bunganya telah habis dan kecantikannya sirna, tak seorang pun yang anda lihat mau menyentuh tangannya.
Apakah kelezatan itu sebanding dengan penderitaan di atas? Apakah akibat itu akan kita tukar dengan kelezatan sementara?
Berilah nasehat-nasehat yang serupa, saya yakin kalian tidak perlu petunjuk orang lain serta tidak kehabisan cara untuk menasehati saudari-saudari yang sesat dan patut di kasihani. Bila kalian tidak dapat mengatasi mereka, berusahalah untuk menjaga wanita-wanita baik, gadis-gadis yang sedang tumbuh agar mereka tidak menempuh jalan yang salah.
Saya tidak meminta kalian untuk mengubah secara drastis mengembalikan wanita masa kini menjadi kepribadian muslimah yang benar, tidak. Kami tahu bahwa perubahan cepat itu mustahil, ibarat malam yang gelap gulita dan pagi yang cerah bercahaya. Allah tidak akan memindahkan dari kegelapan kepada cahaya dalam sekejap. Tetapi dia memasukkan siang ke dalam malam dan engkau tidak merasa-kan perubahan itu. Demikian pula perubahan manusia dari masa kanak-kanak ke masa remaja, dari masa remaja ke masa tua. Sama halnya dengan perubahan se-buah negeri dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain. Akan tetapi kembalilah ke jalan yang benar setapak demi setapak sebagaimana kalian menerima kerusakan setapak demi setapak, kalian memendek-kan pakaian sedikit demi sedikit. Kalian pertipis kerudung dan sabar melalui masa yang panjang. Kalian lakukan perubahan ini sedang lelaki shalih tidak menyadari. Di universitas-universitas Islam, mahasiswa muslim duduk dengan mahasiswi muslimah dengan aurat terbuka. Tak seorang pun orang tua muslim mengingkari.
Hal semacam ini banyak. Tidak dapat diatasi hanya dalam waktu sehari, atau dalam waktu singkat, melainkan dengan kembali ke jalan yang benar, jalan yang semula kita lewati untuk menuju kejelekan. Walaupun jalan itu sekarang telah jauh. Orang yang tidak mau menempuh jalan yang panjang yang hanya satu-satunya ini, tidak akan pernah sampai. Kami mulai dengan memberantas pergaulan bebas, ketika seorang gadis bercampur baur dengan yang selain mahramnya, seorang istri menyambut kawan suami di rumahnya atau menyalaminya bila bertemu di kereta, bertemu di jalan. Atau seorang gadis menjabat tangan pria di universitas, berbin-cang-bincang, berjalan seiring, belajar bersama untuk ujian dan lupa bahwa Allah menjadikan ia sebagai wanita dan si kawan sebagai pria, satu dengan yang lain dapat saling terangsang. Baik wanita, pria atau seluruh penduduk dunia tidak akan mampu mengubah ciptaan Allah, menyamakan dua jenis atau menghapus rangsangan seks dari jiwa mereka.
Kata mereka :”Pergaulan bebas itu dapat mengurangi nafsu birahi, mendidik watak dan dapat menekan kegiatan seksualitas di dalam jiwa”. Untuk menjawab ini saya limpahkan pada mereka yang telah mencoba pergaulan bebas di sekolah-sekolah yaitu Amerika! Apakah mereka belum membaca bahwa problem Amerika, adalah semakin meningkatnya siswi-siswi hamil ?. Karena itu, mereka mengajarkan pelajaran seks di sekolah-sekolah, artinya mereka menuangkan bensin ke dalam api. Sebab mereka menjelaskan kepada para gadis yang suci dan tak mengerti soal seksualitas, apa yang tersembunyi dari aurat laki-laki, serta apa yang di lakukan laki-laki jika sedang berduaan dengan wanita. Sementara ada setan-setan dari jenis munusia yang mengajak agar kita melakukan seperti apa yang mereka lakukan. Sebagaimana mereka juga membiasakan dan melatih para siswi sekolah-sekolah menengah untuk menggunakan pil pencegah kehamilan.
Saya tidak berbicara kepada para pe-muda. Saya tidak ingin mereka mendengar. Saya tahu bahwa mungkin mereka menyanggah dan menertawakan saya. Karena saya telah menghalangi mereka menikmati kelezatan yang benar-benar mereka peroleh. Akan tetapi saya berbicara kepada kalian, putri-putriku. Wahai putriku yang beriman dan beragama! Putriku yang ter-hormat dan terpelihara ! Ketahuilah bahwa yang menjadi korban semua ini bukan orang lain kecuali engkau. Oleh karena itu jangan berikan diri kalian sebagai korban Iblis. Jangan dengarkan ucapan mereka yang merayumu dengan pergaulan bebas demi kebebasan, modernisasi, kemajuan dan kehidupan kampus. Sungguh keba-nyakan orang yang terlaknat itu tidak beristri dan tidak punya anak, mereka sama sekali tidak peduli dengan kalian, mereka menganggap kalian sebagai pemuas kelezatan sementara. Sedang saya adalah seorang ayah dari beberapa gadis. Bila saya membela kalian, berarti saya membela putri-putriku sendiri. Aku ingin kalian bahagia seperti yang aku inginkan untuk putri-putriku.
Bila anak putri telah jatuh, tak seorang pun diantara mereka mau membimbing tangannya atau mengangkat dari lembah kejatuhan. Yang engkau dapati, mereka saling memperebutkan kecantikan gadis itu, selama kecantikan itu masih ada. Bila sudah hilang, mereka pun pergi mening-galkan anak putri tersebut. Sebagaimana anjing-anjing meninggalkan bangkai yang tak berdaging sedikit pun.
Inilah nasehat padamu, putriku. Inilah kebenaran, selain ini jangan percaya. Sadarlah bahwa di tanganmulah, bukan ditangan kaum lelaki kunci pintu kebaikan. Bila mau, perbaikilah diri kalian, dengan demikian umat pun akan menjadi baik.

(Disadur dari Kutaib “Yaa Binti” (Terj), Syaikh Ali Thanthawi)

About salim

hanya seseorang yang ingin memberikan manfaat untuk orang lain Lihat semua pos milik salim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: