Terima kasih, musuh…!

Syaikh Dr. Salman Fahd Al-Audah

Terima kasih, musuh…!

Engkau mengajariku bagaimana mendengar kritik yang pedas tanpa harus merasa
galau. Engkau mengajariku bagaimana harus terus melangkah di jalan yang
telah kutempuh tanpa ragu, meski kadang aku harus mendengar kata-kata yang
kurang pantas atau tidak layak. Sungguh, ini adalah pelajaran yang sangat
berharga. Pelajaran yang tidak bisa didapatkan secara teori, bahkan oleh
seseorang yang telah berupaya dan berupaya. Sampai kemudian Allah
mendatangkan orang lain sebagai pelatih, yang memaksa meneguk pil pahit
untuk pertama kalinya, agar terbiasa untuk selanjutnya.

Terima kasih, musuh…!

Engkaulah penyebab lahirnya pendisiplinan diri; agar diri tidak hanyut oleh
pujian para pemuji. Sungguh, Allah menjadikanmu sebagai penyeimbang. Agar,
seseorang tidak tertipu oleh pujian, atau sanjungan orang yang berlebihan,
atau ujub yang tidak pada tempatnya, dari para pengagum yang hanya melihat
kebaikan dan kebaikan belaka. Berbeda dengan engkau! Engkau tidak melihat
kecuali dari sisi lain. Atau, engkau sejatinya melihat kebaikan tapi engkau
buat ia menjadi buruk.

Terima kasih, musuh…!

Engkau telah mencela lisan-lisan pembela kebenaran, menyerangnya, juga
menentangnya, yang karenanya mengobarkan sikap pembelaan yang hebat.

Jika bukan karena nyala api yang membakarnya
Aroma harum kayu gaharu takkan ada yang tahu

Terima kasih, terima kasih! Engkau mempunyai kelebihan –sekalipun tidak
engkau inginkan– dalam menciptakan iklim keseimbangan, juga obyektifitas
sebuah pemikiran. Kadang, manusia meletakkan al-haq melampaui kadarnya. Dan
engkau, menjadi penyebab ditegakkannya keseimbangan. Penyebab adanya
evaluasi dan perbaikan. Maka, janganlah engkau diperbudak kemarahan atas
sebab penolakanmu. Sebab seseorang, jika kepentingan telah masuk, tak dapat
lagi melihat dan berpikir jernih. Yang tersisa hanya menolak dan menentang.
Tak ada lagi ketenangan dan kehati-hatiaan dalam dirinya. Tak ada lagi
kecermatan dalam memandang pendapat orang yang berbeda dengannya. Padahal,
boleh jadi yang berbeda itu benar, meski hanya sedikit.

Terima kasih, musuh…!

Sungguh, Engkau telah mengasah semangat, menciptakan tantangan, membuka
arena, dan menggelar kompetisi. Hingga setiap orang benar-benar terobsesi
memenangkan dirinya, berambisi meningkatkan dirinya, tuk meraih kedudukan
yang tinggi nan utama. Ya, berlomba adalah sunnah syar’iyah, adalah
ketentuan Rabbani. Bukankah Allah berfirman, “Maka, pada yang demikian itu
hendaklah manusia mau berlomba.”

Tentu, kemuliaan sebuah perlombaan, didasarkan pada tata-cara yang mulia,
tujuan yang benar, media yang sehat, serta rongga yang bersih.

Terima kasih, musuh…!

Engkaulah yang menempa kami untuk berlatih bersabar, berlatih tabah dalam
menghadapi cobaan, dan berlatih membalas keburukan dengan kebaikan sekaligus
penolakan.

Terima kasih, musuh…!

Ya, timbangan kebaikan seseorang kelak, kadang bukan buah dari amal shalih
yang ia lakukan. Tetapi, ia buah dari kesabaran, buah dari bersikap baik,
buah dari ridha atas ketentuan-Nya, buah dari bersikap memaafkan…

Musuhku…, aku sadar betul bahwa sebagian dari kata-kata ini membuatmu
tidak berkenan, atau bahkan terasa menyesakkan hati. Tapi, sungguh saya
tidak bermaksud membuatmu begitu. Sejujurnya saya katakan, engkau adalah
teman sejati. Engkau adalah saudaraku seagama, sekalipun terdapat perbedaan
pendapat di antara kita. Kalau saja kita mau melihat titik persamaan, cukup
banyak yang bisa kita temukan.

About salim

hanya seseorang yang ingin memberikan manfaat untuk orang lain Lihat semua pos milik salim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: