Keikhlasan dalam beribadah dan menjauhi Popularitas

Ulama salaf kita mencontohkan sekaligus ini merupakan nasehat buat kita semua agar jangan gila popularitas.Banyak kisah-kisah yang menunjukkan bagaimana mereka sangat menjauhi sekali yang namanya popularitas.
Namun sayangnya,saat ini kebanyakan manusia berebut untuk menjadi orang yang terkenal sampai-sampai menghalalkan segala cara asal jadi orang terkenal.

Marilah kita simak kisah di bawah ini:

Muhammad bin Al-Munkadir bercerita,” Dahulu saya mempunyai tempat khusus di masjid rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallamyang biasa aku gunakan untuk shalat di malam hari .

Pada waktu itu penduduk Madinah mengalami musim kemarau. Maka mereka pun keluar menjalankan shalat Istisqa’. Namun hujan tidak juga turun. Pada malam harinya, seperti biasa aku shalat Isya’ di Masjid Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu aku mendatangi tiang itu dan menyandarkan tubuhku di sana (istirahat).

Beliau melanjutkan kisahnya: Tiba-tiba datang seorang lelaki berkulit hitam kecoklat-coklatan, mengenakan kain sarung, dan pada lehernya tergantung kain yang lebih kecil lagi. Lelaki itu kemudian mendekati tiang di depanku, sementara (tanpa dia ketahui) aku berada di belakangnya. Kemudian dia shalat dua raka’at lalu duduk seraya berdo’a:”Wahai Rabb-ku. Para penduduk Madinah kota Nabi-Mu telah keluar meminta hujan, namun Engkau tidak juga mencurahkan hujan. Kini aku bersumpah atas nama-Mu, turunkanlah hujan.”
Berkata Ibnul Munkadir: Maka aku bergumam: “jangan-jangan orang ini gila.”

beliau meneruskan: “Tatkala lelaki itu meletakkan tangannya, tiba-tiba aku mendengar suara guntur, diikuti dengan hujan yang turun dari langit yang menyebabkan diriku berkeinginan kembali ke rumah. Ketika ia mendengar suara hujan, ia segera memuji Alloh dengan berbagai pujian yang belum pernah kudengar yang semacam itu sebelumnya.” Perawi melanjutkan : “Kemudian lelaki itu berkata : “Siapa saya, dan apa kedudukan saya, sehingga doa saya terkabul. Akan tetapi aku tetap berlindung dengan memuji diri-Mu dan berlindung dengan pertolongan-Mu.” kemudian lelaki itu mengenakan kain yang digunakan untuk menyelimuti tubuhnya, lalu kain yang bergantung di punggungnya ia turunkan ke kakinya. Setelah itu ia shalat. Ia terus menjalankan shalatnya, sampai ia merasa akan datang Shubuh. Setelah itu ia melakukan shalat Witir dan shalat sunnah Fajar dua raka’at. Kemudian dikumandangkan iqamat Shubuh, ia turut shalat berjama’ah bersama orang banyak. Akupun turut shalat bersamanya . Setelah imam mengucapkan salam, ia (lelaki hitam) segera bangkit dan keluar masjid. Akupun mengikutinya dari belakang, hingga pintu masjid. Lalu dia mengangkat pakaiannya dan berjalan di air yang tergenang (karena hujan). Akupun ikut mengangkat pakaianku dan berjalan di genangan air. Namun kemudian aku kehilangan jejak.

Pada malam selanjutnya, aku kembali shalat Isya di Masjid Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu aku mendatangi tiang tersebut dan berbaring di sana. Tiba-tiba lelaki itu datang lagi dan berdiri di tempat biasa. Ia menyelimuti tubuhnya dengan kain, sementara kain lainnya yang berada di punggungnya ia selempangkan di kedua kakinya, kemudian melakukan shalat. Ia terus melakukan shalat, sampai ia khawatir kalau-kalau waktu Shubuh sudah tiba, lalu ia melakukan Witir dan dua raka’at sunnah Fajar. Setelah itu iqamat berkumandang. Ia langsung shalat berjama’ah, akupun turut bersamanya. Ketika Imam telah mengucapkan salam, ia keluar. Aku juga keluar mengikutinya. Ia berjalan dengan cepat. Akupun mengikutinya hingga sampai ke salah satu rumah di kota Madinah yang kukenal. Akupun kembali ke masjid.

Setelah terbit matahari, dan aku telah menunaikan shalat (Dhuha). Aku segera keluar mendatangi rumah tersebut. Kudapati dirinya sedang duduk menjahit. Ternyata ia tukang sepatu. Ketika ia melihatku, ia segera mengenaliku. Ia berkata: “Wahai Abu Abdillah, selamat datang. Ada yang bisa kubantu? Anda ingin saya buatkan sepatu?” Aku segera duduk dan berkata : “Bukankah engkau yang menjadi temanku di malam pertama itu?” Rona wajahnya berubah menghitam dan berteriak sambil berkata: “Wahai ibnul Munkadir, apa urusanmu dengan kejadian itu ?” Perawi melanjutkan: “Lelaki itu marah dan akupun segera meninggalkannya.Rupa-rupanya dia tidak suka ibadahnya Aku ketahui dan kusebut-sebut. Aku mengatakan: “Sekarang juga aku keluar dari tempat ini.”

Pada malam ketiga, aku kembali shalat Isya di akhir waktu di Masjid Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kemudian menuju tempatku untuk berbaring. Namun lelaki itu tak kunjung datang. Ibnul Munkadir bergumam: “Inna lillahi, apa yang telah aku perbuat?” Pagi harinya, aku duduk di masjid hingga matahari terbit. Kemudian aku keluar untuk mendatangi rumah yang ditempati lelaki tersebut. Ternyata kudapati pintunya terbuka. Dan ternyata rumah itupun sudah tidak berpenghuni lagi. Pemiliki rumah yang ditinggali lelaki itu bertanya kepadaku: “Wahai Abu Abdillah, apa yang terjadi antara anda dengan dirinya kemarin?” Aku balik bertanya: “Apakah gerangan yang terjadi dengannya?” Orang yang berada di rumah itu pun berkata:”Ketika anda keluar dari rumahnya kemarin, lelaki itu segera membentangkan kainnya di tengah ruangan rumahnya. Kemudian ia tidak menyisakan selembar kulit ataupun sepatu. Semuanya dia letakkan dalam kainnya, lalu diangkut. Setelah itu kami tidak tahu lagi ke mana lagi dia pergi.”

Muhammad bin Al-Munkadir berkata: “Setiap rumah yang ada di kota Madinah yang kuketahui pasti ku singgahi untuk mencarinya. Namun aku tidak menemukannya lagi. Semoga Alloh merahmatinya.”

Beginilah ulama salaf kita dahulu mereka sangat takut sekali dari riya hingga sekedar dikethui saja ibadahnya membuat ia rela pergi dari kota di mana ia di kenal.Kita berdoa kepada Allah agar dikaruniakan keikhlasan dalam beribadah.

Catatan
Kisah ini bisa di simak di kitab “Aina nahnu min akhlakis salaf” tulisan Abdul ‘Aziz bin nashir al jalil yang asalnya beliau nukil dari kitab “Shifatu Ash Shafwah”.
Adapun terjemahan di ambil dari postingan sebuah grup di facebook grup “Inspiring Story (Nasehat Melalui Kisah)” yang di posting oleh Ustadz Budy hidayat Abdurrahman.Alamat beliau di facebook : http://www.facebook.com/inbox/?drop&ref=mb#/Budi.Hidayat.Abu.Azka?v=wall&viewas=1823415380.
Di blogger : http://www.pks-grobogan.blogspot.com/

About salim

hanya seseorang yang ingin memberikan manfaat untuk orang lain Lihat semua pos milik salim

4 responses to “Keikhlasan dalam beribadah dan menjauhi Popularitas

  • Syaifu 'L Kariem

    assalaamu laikum warohmatullaahi wabarokatuh.
    disamping mebaca hadits-hadits tentang riya dan takabbur, kita juga perlu melatih diri kita agar tidak terjebak kedalam sifat-sifat tersebut.
    salam kenal.

  • salim

    Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh.Betul membaca saja tidaklah cukup.Yang dituntut adalah pengamalan bukan hanya untuk di baca.
    salam kenal juga…….

  • Aldy

    Assalamualaikum bang Salim,
    Mudah-mudahan ngebog dengan harapan banyak komen dan kunjungan tidak termasuk golongan ini ya bang…

  • salim

    Wa’alaikumussalam….

    Iya,semua itu sebenarnya sesuai dgn niatnya.
    Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda,”sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya” (HR.Bukhari & Muslim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: