Category Archives: sedih

Meninggalnya Syaikh Al-Jibrin -rahimahullah-

Kembali umat islam di seluruh dunia kehilangan pelitanya yang senantiasa memberikan cahaya menuntunnya  agar tidak melenceng dari rel kebenaran.Umat islam di seluruh dunia patut berduka karena pada hari senin tanggal 20 rajab 1430 H bertepatan dengan tanggal 13 juli 2009 M pada jam 2 siang waktu saudi arabia,Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin -rahimahullah- salah seorang ulama kibar di saudi arabia telah meninggal dunia.

Beliau -rahimahullah- akan dishalatkan hari ini tanggal 21 rajab 1430H/14 juli 2009 M, ba’da shalat zhuhur di jami’ Al-Imam Turky bin Abdullah (al-jami’ al-kabir) Riyadh.

Kita memohon kepada Allah agar  melimpahkan kepada beliau rahmat-Nya dan membalasnya dengan  sebaik-baik ganjaran atas segala jasa beliau terhadap kaum muslimin.Serta menjadikan beliau bersama para malaikat di surga firdaus yang paling tinggi.Sesungsguhnya Allah berkuasa dan mampu untuk itu.Innalillah wa inna ilaihi raji’un.

Sumber:

http://ibn-jebreen.com/


Murtad Karena Cinta

“Cinta itu buta”

Mungkin ungkapan ini ada benarnya.Bayangkan karena cinta orang rela mengganti agamanya.Seperti kisah di bawah ini yang gara-gara cinta hingga akhrinya jatuh dalam kemaksiatan dan dengan terpaksa mengganti agamanya.Selamat membaca.

Aku seorang wanita berusia 27 tahun. Dua tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak ke dunia. Hanya saja mungkin keadaanku sebagai seorang ibu berbeda dengan ibu-ibu yang lain. Mereka senantiasa memandang wajah putra dan putrinya dengan tatapan kasih sayang, bangga dan penuh cinta. Sedangkan aku? Yang kudapat saat menatap bola matanya adalah kepedihan yang teramat perih dari kisi-kisi hati yang tersayat sesal.

Sebelum peristiwa pahit itu menyapa dalam hidupku, kehidupanku yang sederhana senantiasa diliputi oleh ketenangan. Aku bahagia dengan keadaanku, dengan rutinitasku. Setiap hari kujalani dengan hati yang riang sebagai seorang wanita. Kebanggaanku pada kehormatan yang senantiasa kujaga demi satu mimpi mendapatkan keluarga yang bahagia suatu saat nanti. Hingga sosok itu hadir menghancurkannya.

Peristiwa itu bermula saat aku bekerja sebagai salah satu staf tata usaha di sebuah akademi kesehatan di kota Daeng. Aku berkenalan dengan dengan seorang pria yang mengaku bujang. Dia juga bekerja sebagai staf tata usaha di kampus tempatku bekerja, namun jabatannya lebih tinggi dariku.

Seperti kata orang, “mulanya biasa saja,” yah, memang semuanya biasa saja. Saling ber-say hello, bercerita, bercanda, bertegur sapa. Sesuatu yang lazim dilakukan oleh sesama pegawai staf. Apalagi dalam satu kantor. Hingga waktu terus berjalan seiring dengan hubungan kami yang begitu akrab. Semuanya mulai menjadi sesuatu yang tidak biasa lagi.

Jujur saja, dalam hal agama, pengetahuanku memang tidak terlalu dalam. Orang mungkin biasa mengatakannya “awam”. Di alam pikiranku, bergaul dengan lawan jenis itu adalah sesuatu yang biasa. Seperti yang terjadi ditengah masyarakat. Apalagi aku dilahirkan dari lingkungan keluarga yang pendidikan agamanya “biasa-biasa saja” tidak mengenal apa itu tarbiyah, ikhtilath, ghibah, dan istilah-istilah yang lain.

Sebenarnya aku tidak pernah berkeinginan untuk dekat dengannya, karena pertimbangan beda agama. Dia seorang non muslim. Namun rayuan demi rayuannya, perjuangannya mendekatiku, janji manisnya, perhatiannya yang berlebihan dan tidak henti-henti meski selalu kutolak dengan cara yang halus, sedikit demi sedikit meluluhkan hatiku.

Gayung pun bersambut, akhirnya kuterima uluran tangannya. Waktu itu aku tidak berpikir untuk serius. Hanya sekedar pengisi waktu saja. Apalagi dia sudah banyak berkorban untukku, dan aku merasa kasihan padanya. Waktu itu aku berpikir suatu saat nanti aku akan minta putus. Mudah kan? Lanjutkan membaca